Rizal Ramli Bongkar Skandal SBY di Blok Cepu dan ExxonMobil
Jakarta(Beritakanankiri), Mantan Menko Ekonomi Rizal Ramli bongkar skandal Mantan Presiden SBY di ladang minyak Blok Cepu, Jawa Timur dengan perusahaan ekplorasi asal Amerika ExxonMobil.
Rizal Ramli bongkar skandal SBY dan ExxonMobil sehingga Pertamina gagal kuasai Blok Cepu di tahun 2005. Diungkap via Channel Total Politik (5/9).
Cerita di bongkar Rizal Ramli. Pada Juni 2005, kata dia, SBY bertemu ExxonMobil untuk bahas Blok Cepu di Amerika.
"Sebelum berangkat, dia (SBY) panggil Saya (Rizal) ke Istana," ungkapnya bersaksi.
SBY minta saran soal kontrak ExxonMobil yang akan habis di Blok Cepu, "Teruskan atau tidak. Jika tidak, akan dioperasikan Pertamina," terang Rizal.
Saran Rizal, "Kita biarkan sampai batas kontrak habis (tinggal 5 tahun). Jangan diperpanjang, biar ExxonMobil tinggalkan Blok Cepu," terang dia beri keyakinan.
SBY pun berangkat ke Amerika dan bertemu ExxonMobil pada 10 Juni 2005.
"Pulang dari Istana gue gembira banget. Gue nyanyi Halo Halo Bandung sepanjang jalan pulang. Gue seneng rakyat Indonesia kembali kuasai ladang minyak Blok Cepu setelah puluhan tahun," ungkapnya.
Ketika SBY pulang dari Amerika, "Gue kecewa," kata Rizal Ramli.
Yang pertama SBY lakukan, adalah mencopot seluruh direksi Pertamina pimpinan Widya Purnama.
Mendengar itu, Rizal lalu mengundang Widya Purnama makan siang di Hotel Hilton untuk mengetahui alasan pemecatan direksi Pertamina pasca SBY bertemu ExxonMobil di Amerika.
Widya Purnama berkata; "Kami ditawari uang dari ExxonMobil. Saya dapat 20 juta dollar, lalu 4 orang direksi lainnya masing-masing 10 juta dollar," terang Rizal meniru penjelasan Widya Purnama.
Lalu Widya kembali berkata; "Kalau ExxonMobil keluarkan 60 juta dollar untuk kami tinggalkan Pertamina. Lalu berapa yang diberikan ExxonMobil pada orang di atas kami," ungkap Rizal.
Rizal jelaskan orang yang jadi negoisator Blok Cepu dengan ExxonMobil di Amerika adalah Andi Mallarangeng (kini Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat).
"Dia ga paham soal minyak, tapi jadi ketua negoisasi. Dia biarkan ExxonMobil buat draft perjanjian untuk ditandatangani," ungkap Rizal Ramli sangat marah.